Cikeusik, Apakah Cikeas Terusik?


Senin pagi tadi, Arkan dan Ayyi seharusnya menimba ilmu di sekolah. Tetapi, dua hal tidak memungkinkan dua anak ini untuk berangkat ke sekolah. Selain hujan deras yang mengguyur Cikeusik tadi pagi, ayah mereka juga tidak bisa mengantarkan mereka ke sekolah. Ayah mereka, Deden Dermawan, menjadi salah satu korban dari jemaah Ahmadiyah ketika terjadi bentrokan dengan warga Cikeusik, Pandeglang, kemarin siang.

Pergelangan tangan Deden terluka parah karena terkena ayunan pedang dari warga ketika menghindari serangan yang mengarah ke kepalanya. Kepala dan kakinya pun terluka parah. Tetapi Deden masih sedikit beruntung bila dibandingkan tiga jemaah Ahmadiyah lainnya. Mulyadi, Tarno, dan Roni akhirnya harus meregang nyawa karena bentrokan mau itu.

Sungguh sangat disesalkan, semua pihak mengecam pembantaian ini. Lebih ironi lagi, kejadian di Cikeusik terjadi ketika dilaksanakan Pekan Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Pandeglang, Banten. Semalam, pejabat-pejabat pembantu SBY langsung melakukan rapat tertutup terkait tragedi Cikeusik. Rapat itu menghasilkan tujuh pernyataan pemerintah yang menurut saya hanya (maaf) bla bla bla. Saya mengartikan tujuh pernyataan itu dalam sebuah kalimat ringkas, “pemerintah prihatin.”

Meski banyak yang berbicara soal kerukunan beragama, saya lebih ingin berbicara tentang tak berdayanya negara ini. Tak perlu mengecam tindakan anarkis itu, tanyakan dulu dimana polisi sebagai penegak keamanan. Bila polisi terlihat lihai menangkap setiap pergerakan teroris, di Cikeusik polisi mendapatkan rapor merah. Saya sangat menyayangkan kapolri yang menyatakan tragedi Cikeusik terjadi tanpa disangka-sangka dan secara tiba-tiba.

Inayah Wahid, putri Gus Dur, dalam aksi damai di depan istana negara hari ini membawa pesan ringkas, “Tragedi Ahmadiyah. Rakyat dibantai. SBY, Kamu dimana?” Sebuah ketidakpercayaan kepada pemerintah. Pemerintah dianggap tidak mampu menjaga ketentraman rakyatnya. Tapi bila ditanya SBY dimana, tentulah SBY sedang berduka karena salah satu kader terbaiknya meninggal dunia. Saya pikir minggu ini SBY benar-benar sedih.

Bila negara tak berdaya, lalu kemana kita akan mencari perlindungan. Kita memang bangsa pelupa, tak lama lagi juga kita akan lupa dan pemerintah juga pura-pura lupa dengan tugasnya. Sampai kita pun lupa bahwa mereka juga saudara sebangsa kita sendiri.

This entry was published on 7 Februari 2011 at 16:27. It’s filed under Catatan Gie and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

10 pemikiran pada “Cikeusik, Apakah Cikeas Terusik?

  1. Ping-balik: Tweets that mention Cikeusik, Apakah Cikeas Terusik? « giewahyudi -- Topsy.com

  2. Ping-balik: Stylish Blogger Award : My First Award « anugrha13

  3. agama manapun tidak ada yang mengajarkan kekerasan, jadi kekerasan yang menagatasnamakan agama, pelakunya TIDAK beragama,.,,,hufffhhh

  4. Iya, Mas.
    Jangan ikut emosi ya, Mas.
    Kita masih waras kan ya? :)

  5. saya masih beragama kok mas…hehe

    mas ada awrd untuk mu,,,cekidot yah…
    http://anugrha13.wordpress.com/2011/02/09/stylish-blogger-award-my-first-award/

  6. jadi ill feel nih sama pemerintah

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.