Sudah lama tidak ada kabar tentang IPDN yang dulunya bernama STPDN. Tapi pagi sebuah berita menyeruak dari balik kampus Jatinangor yang terkenal dengan kekerasannya itu. Kali ini kasus kekerasan yang berujung pada kematian terjadi bukan pada orang biasa. Putra seorang gubernur meninggal di kampus IPDN, meski belum ada konfirmasi dari pihak kampus.
Rinra Sujiwa Syahrul Putra adalah putra dari gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Sehari sebelum meninggal Rinra yang berumur 21 tahun ini sempat meminta ayahnya untuk tidur berdampingan dengannya. Rinra sempat ditanya oleh kerabat ayahnya di Jakarta soal luka di perutnya. Rinra hanya menjawab ini adalah hal yang biasa di IPDN. “Ini biasa Pak di STPDN,” jawabnya.
Minggu sore, Syahrul Yasin Limpo masih sempat mengantarkan anaknya itu ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Rinra pulang ke Makassar untuk liburan akhir pekan dan harus masuk kampus pada malam tadi. Malam harinya Rinra ditemukan meninggal di kamar kostnya di Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor. Pukul 05.00, Rinra dibawa ke Rumah Sakit AMC Cileunyi dalam keadaan tidak bernyawa. Pihak rumah sakit pun tidak melakukan penanganan apapun.
Pagi ini Syahrul Yasin Limpo mendapat kabar langsung dari pimpinan IPDN bahwa anak bungsunya tersebut meninggal. Jenazah Rinra hari ini juga akan dibawa ke Makassar untuk disemayamkan. Meskipun berduka, Syahrul Yasin Limpo tetap memimpin rapat kerja di kantor gubernur Sulsel. Setelah itu Syahrul Yasin Limpo langsung menuju bandara untuk menunggu kedatangan jenasah anak bungsunya itu.
Rinra sebenarnya adalah figur praja berprestasi. Nindya Praja ini memiliki indeks prestasi yang terbilang di atas rata-rata yaitu 3,49. Rinra juga aktif dalam Dewan Perwakilan Praja. Beberapa kabar burung mulai tersebar. Ada yang mengatakan bahwa meninggalnya Rinra disebabkan karena penyiksaan. Namun hal ini dibantah oleh pihak keluarga Rinra, pasalnya Rinra adalah seorang Nindya Praja. “Dia ini Nindya Praja, paling senior, jadi siapa yang mau siksa dia?” kata Irman Yasin Limpo, paman Rinra.
Anehnya pihak keluarga menolak dilakukan otopsi dan pemeriksaan polisi. Keluarga Rinra menganggap kematian ini adalah sesuatu yang wajar. Pihak RS AMC telah menjelaskan bahwa penyebab kematian Rinra adalah karena kram perut. Siang ini pukul 14.00 rencananya jenasah Rinra akan diterbangkan langsung dari Bandung ke Makassar. Dan saya terus saja bertanya-tanya, apakah penyebab dari kram perut yang mengantarkan Rinra ke penghujung usianya? Yang pasti bukan kram perut biasa, piker saya.

owh,,,,im sorry to hear that…
innalillahi wainnailaihi rojiun :’(
lagi2 kampus ini membawa duka…
Iya, ada masalah di kampus itu.
Untung dulu enggak diterima..
haghaghag…
sama untung saya juga ga diterima…tapi sebenrnya pgn bgt tahu cerita sebenrnya euy,,,sulit membuka bungkam mereka semua,,,
Susah kali ya..
Soal sesuatu di perut, atau karena psikotropika ya? Desas desusnya sih gitu…
innalillahi wainnailaihi rojiun
Iya ada juga yang bilang karena OD. Mungkin karena itu keluarganya enggak mau otopsi..
Selamat sore …
wah saya malah baru tau informasi ini di blog ini soalnya di TV belum di tayangkan …
semoga untuk kedepan tidak ada lagi kasus serupa. dan semoga itu bukan karena kasus kekerasan.
Iya Selamat petang juga Mas Bayu.
Semoga kalau memang berhubungan dengan hukum, polisi mengusutnya. Kejahatan tak boleh disembunyikan..
ditipi hanya muncul di running text hehehe belum di blow up
Iya, saya malah belum ngecek di tivi..
Makasih ya..
baru nonton di tivi tadi. jenazahnya baru nyampe di makassar katanya tadi.
ga tahu kalau masalah nya kram perut.
iya, itu konfirmasi dari pihak rumah sakit, seharusnya kan dipastikan dengan otopsi atau pemeriksaan lainnya..
hmmm.. bingung mo bilang apa!
gimana ya.. emang dari dulu STPDN terkenal dengan “begituan”nya tapi saya juga punya banyak temen yang lulus dalam keadaan sehat wal afiat. makanya jadi bingung, sebenarnya mereka yang meninggal itu karena lagi sial ato gimana?!
Iya, sebaiknya kampus itu direformasi, ganti nama tapi budaya kekerasan masih nyata..
Ping-balik: Radio-Bayuputra.com siap mengudara « BayuPutra
IPDN memang terkenal dengan kekerasannya ya atau benar dengan gosip tentang narkobanya. Entahlah. .
Miris ngedengarnya, sekolah calon pemimpin dengan banyak isu negatifnya. entah sampai kapan.
Iya, Mas.
Ngenes kalau lihat sekolah pemimpin kok kayak preman gitu ya?
Biasa nggusur nanti..
selalu za terjadi hal2 yang aneh di IPDN ini,
Iya, Mas. Aneh tapi nyata, kayak sulapan aja kan.
turut berduka atas berpulangnya Rinra
saya masih ga ngerti, kenapa untuk menjadi pejabat pemerintah, seorang mahasiswa harus dipukuli…
memangnya kita ini negara rimba?
Iya, Mbak Rime..
Semoga pemerintah dan pihak berwenang mau membuka mata untuk menyelesaikan masalah kekerasan di kampus itu..
Negara kadang rimba, yang kuasa menerkam yang lemah..
Ping-balik: luangkan waktu untuk Selamatkan Komodo « anugrha13
Hem… makin banyak korban di IPDN, faktor inputnya juga neh berpengaruh besar keknya
Iya semuanya seharusnya direvolusi, kalau cuma dievaluasi enggak ngaruh..
ehmmm .. dia meninggal karna ajalnya emg ud sampe situu,bukan karna kekerasannn ,, jgan negatif thinking gtu dooongg