Hantu, Hutan, dan Tuhan

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa tahun ini telah ditetapkan oleh PBB sebagai Tahun Hutan Internasional. Mungkin sudah banyak yang menyadari bahwa hutan adalah paru-paru dunia dan sumber keragaman hayati terbesar. Dan mungkin akan semakin banyak yang menyadari bahwa dengan menyelamatkan hutan berarti juga menyelamatkan manusia dari kemiskinan dan menekan laju perubahan iklim.

Seandainya kita memiliki komitmen yang kuat dalam pengelolaan hutan, masyarakat Indonesia akan makmur dan sejahtera. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah kebalikannya. Kerusakan hutan semakin tidak terkendali, kerugian dalam bidang ekologi tidak terelakkan, kerugian keuangan negara karena praktek illegal-logging semakin menjadi-jadi, kesejahteraan tidak dapat dinikmati, dan bencana-bencana pun datang silih berganti.

Kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai angka lebih dari 26 juta hektar dari 180 juta hektar total luas hutan Indonesia. Kementerian Kehutanan memperkirakan jumlah lahan hutan yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 1,8 juta hektar per tahun. Laporan Green Peace menyatakan bahwa kerusakan hutan di Indonesia adalah kerusakan hutan tertinggi di dunia. Bahkan konon kerusakan hutan di Indonesia tercatat dalam Guinnes Book of World Records sebagai “negara dengan kerusakan hutan tercepat”.

Kerusakan hutan kita terutama disebabkan dominasi kepentingan ekonomi di atas kepentingan ekologi, aparat pemerintah yang tidak tegas dalam penegakan hukum, dan sikap manusia yang merasa mempunyai kekuasaan atas hutan. Dalam pengelolaan hutan, kepentingan ekonomi sangat jauh lebih dominan dibandingkan dengan kepentingan ekologi. Perekonomian global dan pasar bebas mendorong Indonesia mencari komposisi sumber daya alam yang paling optimal. Hutan selalu menjadi alat untuk mencapai tujuan itu.

Negara dengan kemampuan teknologi yang rendah, seperti Indonesia, cenderung menumpukkan industrinya pada bidang sumber daya alam. Pemerintah kita juga terpaksa mengeksploitasi hutan secara berlebihan untuk membayar hutang luar negeri. Menurut kajian beberapa lembaga swadaya masyarakat, sekitar 70 persen kebutuhan kayu dalam negeri dipasok dari penebangan liar. Industri berbasis kayu juga menyumbang 6,1 miliar sampai 9 miliar dolar AS dalam total ekspor Indonesia dan menempati urutan ketiga komoditi ekspor non-migas sebagai sumber devisa.

Lemahnya penegakan hukum turut memperparah kerusakan hutan kita. Penegakan hukum hanya menjangkau para pelaku di lapangan. Mereka hanya orang suruhan dan orang yang paling bertanggung jawab masih belum tersentuh oleh jerat hukum. Mereka mempunyai modal yang besar dan memiliki jaringan kepada penguasa (kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan) sehingga penegakan hukum menjadi sangat lemah. Bobroknya mental manusia turut memperparah kerusakan hutan. Manusia menganggap dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan merasa berkuasa atas hutan.

Pemikiran antroposentris seperti ini menjadikan keputusan dan tindakan manusia sering didominasi untuk kepentingan manusia saja, serta hanya memikirkan kepentingan di masa sekarang dan mengabaikan kepentingan di masa yang akan datang. Akhirnya hutan dimanfaatkan dengan sesuka hati. Masyarakat dengan seenaknya membuka hutan untuk lahan pertanian. Pengusaha menjadikan hutan sebagai hutan perkebunan dan pertambangan tanpa memiliki pertimbangan akan kerusakan hutan yang mungkin terjadi.

Menurut Hegel, agama adalah sumber keterasingan manusia dari alam. Keterasingan manusia dari alam ini terjadi karena manusia memahami Tuhan sebagai Tuhan yang mengatasi dunia secara terbatas dan terpisah dari kehidupan manusia di bumi. Dalam pemahaman seperti ini, manusia tidak menemukan Tuhan di alam. Sehingga manusia menganggap alam sebagai obyek yang menakutkan dan berbahaya bagi manusia. Manusia telah menganggap alam sebagai hantu yang harus ditakuti.

Manusia terombang-ambing dalam menghadapi alam di antara rasa takut dan keinginan menguasai alam. Ketakutan manusia terhadap alam diterjemahkan menjadi keinginan manusia untuk menguasai alam. Namun manusia tidak lagi mengasihi alam dan semangat untuk menjaga alam telah punah. Alam dikelola dengan dasar kekuasaan dan sebagai bukti kekuatan manusia dalam menakhlukkan alam. Alam dikuasai dan ditakhlukkan yang akhirnya akan menimbulkan kerusakan alam.

Hassan Hanafi dalam karyanya “Religion, Ideology, and Developmentalism” memperkenalkan sebuah teologi untuk memperlakukan bumi. Menurut Hanafi, bumi yang diciptakan Tuhan harus dikelola manusia secara baik dan benar. Tidak ada satupun manusia yang sesungguhnya mempunyai hak untuk mengklaim memiliki barang sejengkal pun terhadap bumi, karena bumi ini adalah milik Tuhan. Hutan diciptakan Tuhan bukan hanya untuk kepentingan manusia, tetapi juga untuk flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Sayangnya, kerusakan hutan kita telah menyebabkan punahnya satu spesies dan hilangnya 70 persen habitat alami dalam satu dekade terakhir.

Indonesia sebagai negara beragama seharusnya menjaga kelestarian hutan, namun kenyataannya kerusakan hutan Indonesia semakin parah. Seringnya bencana banjir dan tanah longsor menunjukkan kerusakan hutan kita sudah cukup mengkhawatirkan. Karena pentingnya peranan hutan dalam menjaga keseimbangan hidup, maka sudah seharusnya kelestarian hutan dijaga sebaik mungkin. Ketidaktanggapan dalam menjaga kelestarian hutan menunjukkan tidak adanya kesadaran teologis, karena pola hidup manusia yang kurang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan sangat tidak menunjukkan rasa syukur manusia atas anugerah yang dikaruniakan Tuhan.

Agama mengajarkan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia agar bisa menjadi khalifah di muka bumi. Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa paling tidak istilah “khalifah” mempunyai dua pengertian. Pertama, khalifah diperuntukkan bagi siapapun yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah. Kedua, khalifah juga berpotensi melakukan kesalahan.

Maka manusia memerlukan petunjuk untuk mengelola wilayah untuk menghindari kesalahan.Manusia ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi karena manusia diciptakan dengan beberapa kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Manusia dibekali dengan akal dan nafsu untuk bisa berfikir, berkreasi, serta mempunyai keinginan untuk memenuhi hasrat egonya.

Tetapi manusia juga mempunyai kelemahan karena pada dasarnya manusia adalah “tempat salah dan lupa”. Hal inilah yang dapat menjerumuskan manusia untuk melakukan kesalahan. Oleh karena itu, Tuhan menurunkan petunjuk yang menjelaskan perbuatan baik dan perbuatan buruk kepada manusia. Selanjutnya manusia memiliki kebebasan untuk memilih perbuatan yang akan dilakukannya.

Sehingga di sinilah etika religius begitu diperlukan. Etika religius menempatkan kekhalifahan manusia di muka bumi sebagai sarana bagi manusia untuk menjadikan kekhalifahannya tersebut sebagai saran untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam permasalahan kerusakan hutan kita yang menjadi begitu kompleks, kita perlu mengingatkan kembali bahwa masalah ini bukan hanya mencakup perilaku manusia dan hutan.

Masalah ini harus dilihat dalam konsep trilogi kehidupan yaitu ; manusia, alam, dan Tuhan. Tuhan menciptakan hutan untuk kelangsungan hidup manusia dan manusia sebagai khalifah di muka bumi harus menjaga kelestarian hutan demi mengemban tugas kekhalifahannya sekaligus menjadikannya sebagai salah satu sarana ibadah kepada Tuhan. Tentu kita yang tak mau menjadi hantu bagi hutan dengan mengabaikan Tuhan.

42 tanggapan untuk posting ini.

  1. pendekatan trilogi yg sangat menarik. semoga menang :D

    Balas

  2. SI mas rajin kali nulisnya yaa…
    kok nggak dari dulu :?:
    SUkses deh buat ngeblognya…

    Perjuangan hutan kita masih jauh, dan mungkin terlalu complicated untuk dibilang mudah.

    Balas

  3. permainan 3 kata yg unik,sampe kepikiran seperti itu,saya blas ga nyangka hehehe :D

    Balas

  4. [...] This post was mentioned on Twitter by Gie Wahyudi, Gie Wahyudi. Gie Wahyudi said: Hantu, Hutan, dan Tuhan: http://t.co/6NWmdHO [...]

    Balas

  5. luar biasa.
    tulisannya menghubungkan tiga kata yg berhubungan dan memainkan peran cukup penting dlm alam bawah sadar manusia.
    dan uniknya lg ketiga kata itu terdiri atas huruf2 yg sama..
    hebat !!!!!

    btw, apa perbkebunan (sawit dan karet) itu bs dianggap sbg hutan ??

    Balas

    • Hihiii, makasih Mas, kebetulan kemarin kerasukan hantu hutan Alas Roban.. :)

      setahu saya, perkebunan sawit dan karet masih termasuk hutan produktif yang tetap memegang peran sebagai paru-paru dunia tetapi sangat mengurangi keragaman ekologis di hutan itu..

      Balas

  6. detil sekali neh mas… cool

    Balas

  7. Saya berusaha ikut menyelamatkan hutan dengan cara hemat kertas, ngeprint dua sisi. Juga meminimalisir pakai tisu. Semoga langkah2 kecil itu nggak memperparah sifat manusia yang makin menjadi hantu bagi hutan. Soal Tuhan, masih berat deh buat saya.

    Balas

    • Iya tindakan-tindakan seperti itu harus mulai dan terus dilakukan, sebisa mungkin ‘paperless’.
      Paper Less Plant More.
      Kurangi penggunaan kertas. Galakkan gerakan menanam pohon.
      Soal Tuhan, hanya kita dan Tuhan yang tahu.. :)

      Balas

  8. Mantaps…. top markotop.

    Sebenernya kalau kita pakai produk kayu, kita justru lebih menyelamatkan Bumi, karena membantu penyimpanan karbon (yang awalnya berenanng di atmosfer, jadi di dalam rumah kita), asalah usia barangnya minimal 50 tahun, misalnya furniture (kertas ga dihitung, karena ada kemungkinan lapuk sebelum 50 tahun).

    banyak yang tidak menyadari bahwa selama ini kita hidup dari alam, tapi kita memperlakukan alam layaknya pelacur.

    Balas

    • Terima kasih, Mbak Rime..

      Gie baru tahu soal penyimpanan karbon itu, pantas saja ya kalo lebih banyak furniture dari kayu di rumah, rasanya udara lebih enak yaa.

      Iya semoga kita semakin sadar bagaimana sebaiknya kita memperlakukan alam..

      Balas

      • Suasana lebih enak itu mungkin akibat persepsi kita yang merasa lebih nyaman kalau kita hidup di alam yang asri.

        Penyimpanan karbon itu maksudnya kita bantu Bumi narik2in karbon yang kalau ada di atmosfer, dia jadi Gas Rumah Kaca.

        njelasinnya kudu panjang nih mas, nanti saya bikin posting khusus tentang ini deh :)

        Balas

        • Iya ditunggu ya posting tentang efek rumah kacanya, eh itu nama band indie ding. :)
          Terima kasih lho Mbak, sudah mau berbagi dengan gie.
          Sekedar info saja, sekarang di halte busway Harmoni sudah ada program penghijauan, di tepi jembatan penyeberangan ditanam bunga-bunga Bougenville.

          Balas

  9. Keren. Saya suka. Sangat disayangkan memang jika manusia pada umumnya menganggap alam itu sebagai miliknya sehingga bisa dieksplorasi sepuasnya. Padahal alam itu diciptakan Tuhan agar manusia bisa mengolah, melestarikan dan mengembangkannya dengan pengetahuan yang dimiliki manusia. Tapi manusia malah merusaknya. Alam dan manusia harus punya hubungan simbiosis mutualisme, bukan simbiosis parasitisme seperti sekarang. Membaca postingan ini, saya jadi terinspirasi untuk menulis.

    Balas

    • Iya, Mbak.
      Saya juag senang kalau Mbak Sya suka dengan tulisan ini.
      Semoga Mbak Sya dan orang-orang di sekitar Mbak Sya bisa lebih berusaha lagi untuk membuat alam ini lebih keren lagi.
      Saya tunggu tulisannya ya.. :)

      Balas

  10. Sebenernya kalau kita pakai produk kayu, kita justru lebih menyelamatkan Bumi, karena membantu penyimpanan karbon loh….salam mas…

    Balas

    • Salam juga, Mas.. :)
      Bener, Mas.
      Saya dikasih tahu sama Mbak Rime di komentar sebelumnya, untuk lebih jelasnya mari kita tunggu ulasan lengkap dari Mbak Rime..

      Balas

  11. saya ikut mendukung aja deh mas…yg penting dah ikut berpartisipasi yah..

    Balas

  12. jadi panas……………….,

    Balas

  13. bener2 hidup tulisane sampean mas…..

    Sayang ya, keserakahan manusia selalu saja mengorbankan alam…
    Kalau sudah nampak efek buruknya, manusia sambat.. Suruh njaga kelestariannya, buandelnya minta ampun… Repot…..

    Balas

    • Iya, tadi diisi sama jelangkung tulisannya biar bisa hidup.. :)

      Yang penting sih mulai sekarang harus ada rasa bersalah tiap kita melakukan sesuatu yang merusak alam..

      Balas

  14. Posted by Lutfi Retno Wahyudyanti on 24 Januari 2011 at 18:03

    Ada idekah bagaimana cara menyelamatkan lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri? Mungkin kalau kita ngobrol tentang pencegahan hutan ditebang terlalu jauh, adakah cara yang lebih sederhana untuk membuktikan kita cinta bumi?

    Balas

    • Yang simpel misalnya mulai misahin sampah organik dan non-organik dan tentunya buang sampah pada tempatnya..
      Mulai dari sesuatuu yang mudah dulu aja..

      Balas

  15. indonesia masuk guiness book of world record sebagai negara penghancur hutan palin wahid, untuk prestasi buruk sepertinya kita selalu di garda depan…

    Balas

  16. agama dan ucapan serta wejangan hanya dijadikan retorika belaka dan semangat membangun hutan kembali hanya dijadikan wacana,makanya semua harus kita mulai dari diri kita sendiri canangankanlah dalam setiap kita agar mau menanam pohon persatu pohon setiap orang agar bumi ini kembali segar dan agar supaya kita bisa memberikan yg terbaik minimal buat anak cucu kita dikemudian hari.

    Salam

    Balas

    • Iya, kalau di rumah ada pohon-pohon kan suasana juga jadi sejuk, apalagi kalau ada burung yang bersarang di pohon itu, pasti rumahnya adeemmm..

      Balas

  17. [...] berkunjung ke blog Mas Gie dan  saya tersentuh dengan tulisannya tentang hutan. Sebelumnya memang sudah tahu akan [...]

    Balas

  18. [...] Giewahyudi [...]

    Balas

  19. [...] Giewahyudi [...]

    Balas

  20. kalau paru-paru rusak gimana nasibnya ya?

    Balas

  21. Mas Gie berbakat banget nih jadi kolumnnis :D Tulisannya runut, sip.
    Btw, saya cuma ngerti gara2 kita pengen jadi eksportir kelapa sawit terbesar (udah terbukti taun kemaren), banyak hutan yg disulap jadi kebun klapa sawit.

    Memang butuh kebijakan yg lebih ketat. Gimana ni pemerintah?

    Balas

  22. [...] Mas Gie Wahyudi [...]

    Balas

  23. Salam Takzim
    Izin nyimak sambil nyampein Award mas, semoga berkenan
    Salam Takzim Batavusqu

    Balas

  24. manuver kata yang bijak dan cerdas untuk bekal generasi penerus bangsa.

    go green my country :)

    Balas

  25. Mas Gie, lengkap banget detail tulisannya. keren…
    :mulut mangap:

    Ayo sayangi hutan Indonesia. Kasihan kalau sampai gundul, ntar pasti jadi makin sering banjir, tanah longsor, dll ;)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.