Suatu akhir pekan, saya dengan beberapa teman sepakat untuk meninggalkan penatnya kota Jakarta. Lima hari kerja yang menguras tenaga dan pikiran cukuplah sudah. Berita tentang Gayus, politikus, korupsi, dan segala berita yang bisa membuat orang menjadi tidak waras. Kami cukupkan dengan meninggalkan Jakarta di malam Sabtu. Tentunya setelah kemacetan yang sudah terurai.
Dari hari Senin kami sudah memutuskan untuk melarikan diri dari segala rupa hiburan di Kota Jakarta yang sebenarnya tak benar-benar menghibur, hiburan sejenak yang segera hilang setelah menatap kenyataan jalanan Jakarta yang macet. Setelah tidak sampai dua jam, kami akhirnya sampai di hutan. Selain karena memang tanpa sinyal, akhirnya kami pun mematikan ponsel masing-masing. Blackberry, iPhone, dan semua merek ponsel enggak ada gunanya disini.
Kami bermalam di sebuah pinggiran hutan yang berbatasan dengan sebuah danau kecil. Setelah mendirikan tenda kecil, kami mengumpulkan kayu-kayu kering untuk membuat api unggun kecil. Hutan itu terasa sepi dan hening meski suara angin yang mengerakkan dahan-dahan dan suara-suara fauna malam masih terdengar. Yang pasti, hutan ini lebih sepi dari sesepi-sepinya Jakarta. Saya bisa tidur tanpa gangguan dengan suasana yang bisa menenteramkan jiwa.
Paginya saya bangun dengan cahaya matahari yang menembus rimbunnya atap hutan yang hijau. Cahayanya memantul di permukaan danau, sedikit menyilaukan mata agar saya tidak tidur saja. Percuma ke hutan kalau hanya tidur saja. Lalu saya tergoda untuk terjun mencoba beningnya air danau. Di Jakarta, saya bisa berenang tapi harus umpel-umpelan di kolam renang. Lain kalau di hutan, saya bisa berenang sepuasnya tanpa harus saling sikut-sikutan. Saya juga bisa berenang di bawah rerimbunan pohon-pohon hijau.
Setelah berenang, saya duduk-duduk di tepi danau dan bersandar di pohon besar yang rindang sembari membebaskan pikiran dari sejuta agenda di ibukota. Di hutan, saya bisa memikirkan apa yang mungkin tak terpikirkan ketika berada di Jakarta. Suara burung-burung yang berkicau di atas dahan pohon yang sedang saya sandari membuat segala bening pemikiran datang. Selama ini di Jakarta, saya hanya mendengar kicauan-kicauan yang tidak selalu mendamaikan. Kicauan di Twitter maksud saya. Saya sampai hampir lupa bedanya kicauan dengan jeritan.
Saya dan Anda tentu tahu betapa susahnya mempunyai sebuah kebun di Jakarta. Di hutan kebun besar nan luas tersaji tanpa kita harus menyiramnya. Angin yang menerpa dedaunan ternyata juga menerpa saya. Namun saya lihat daun-daun itu bergerak mengikuti angin, beda dengan saya yang tegak menantang angin. Daun juga berani menghadapi panasnya matahari makanya ia bisa tumbuh. Beda dengan saya yang takut dengan panasnya kehidupan sehingga saya belum juga “naik kelas”. Di situ-situ saja. Jadi selalu ada yang tersisa dari saya perhatikan di hutan, juga terlihat pada diri saya.
Lalu saya memperhatikan pepohonan yang beranekan macam. Satu pohon dengan batang tegak lurus menantang langit dan daunnya seolah membentuk payung hijau raksasa. Ia besar dan melindungi siapapun yang duduk di bawahnya. Beberapa pohon kecil tumbuh di sekeliling pohon besar itu dan ada juga tumbuhan merambat yang saling berkaitan dahannya. Namun ada juga rumput yang mau hidup di bawah, pendek, dan terinjak-injak.
Jadi saya mau seperti pohon yang tinggi besar agar bisa membuat orang lain bisa berteduh di dekat saya. Agar orang nyaman dan merasa dilindungi di dekat saya. Tapi saya tidak mau menjadi pohon besar yang merasa besar dan merumputkan manusia lainnya. Saya enggak mau menjadi pohon yang rindang tapi di bawah saya ada pohon-pohon lain yang layu dan kemudian mati kering.
Ps ; Catatan ini ditulis untuk mengapresiasi PBB yang menetapkan Tahun 2011 sebagai Tahun Hutan Internasional.

pertamaxx kah?
Sampai ketigax sudah diamankan tuh.
melarikan diri kemana tu mas?
hadoh… Hp q error, tdi ndak nampak semua postnya, cuma 3 paragrap saja.. Mbaca lagi ah…
Ku lari ke hutan lalu..
Mari bercocok tanam .
wah tulisannya diikutkan ke sini aja mas :
http://pengendara.files.wordpress.com/2011/01/lombaartikelblog.jpg
lumayan x aja dpt hadiah ketemu gayus
wkwkwk
LOL
Wah saya enggak tahu ada lombanya, nantilah saya pantau dulu.
Terima kasih infonya yaa..
iya mas buruan…exp date nya 2 hari lagi loh :p
Wah ternyata untuk pelajar dan guru ya.
saya bukan dua-duanya.
hehehe…ya maap saya juga baru baca dengan seksama je…ga papa mas…tidak ikut dalam kompetisi, yang penting sudah turt andil dalam mitigasi bencana perubahan iklim :p
Kompetisi dengan diri sendiri aja deh..
Wah tenang sekali
Saya membutuhkan tempat itu, pengen keluar dari Jakarta!
Ayo Deny, kapan kita melarikan diri dari Jakarta?
Klo event melarikan dirinya dah fix, ajak2 saya …
Iya, tapi pamit sama orangtuanya dulu ya..
Drama sudah selesai! Saatnya melarikan diri!!!!!!!!!!!!!!1
Ayo malam minggu sudah tiba. Melarikan diri kemana kita, Den?
tenang mas… pohon rindang ga akan membuat pohon-pohon kecil di bawahnya mati. setiap bagian dari elemen-elemen alam punya interkoneksi, semuanya saling mendukung satu sama lain. (ini penjelasan ekologisnya, kebetulan saya orang ekologi, hehehe…)
btw, ini tempatnya di mana nih? *penasaran*
wah ada ahlinya disini. tapi ada kan pohon yang punya hormon yang bisa menghalangi tumbuhan lain tumbuh di sekelilingnya. saya lupa istilahnya, misalnya pohon cemara..
heheee, maaf ada kesalahpahaman. tulisan ini kan tentang mimpi, lokasinya yang di mimpi saya..
Oalah, mimpi toh?
oiya, saya lupa ada pohon-pohon yang punya sifat ini. maksudnya alelopati ya? untungnya ini hanya untuk sebagian pohon saja, misalnya pinus.
herannya, pemerintah seringkali melakukan penanaman pinus untuk reforestasi.. padahal pohon ini sangat tidak bersahabat dengan jenis pohon lain
Iya alelopati, makasih ya, udah lupa..
Itu mungkin maksudnya deforestisasi kali ya? :p
Aktivis lingkungan ya, Mbak?
pinggiran hutan yg berbatasan dgn danau kecil?? dimana itu persisnya bro?!
Aduh sama kayak Mbak Rime, gie lupa menjelaskan judulnya, yang gie tulis ini tentang mimpi, Opa..
Seperti sebuah harapan bahwa ada tempat seperti itu di sekitar Jakarta. *maaf*
Semalam aku ga sempat mimpi apa-apa, lagian takut ke hutan kalau nanti digigit ular gimana?
Iya anak mama di rumah saja ya, nanti digigit nyamuk aja minta pulang.. :p
“naik kelas”
membuat persepsi ambigu nih, mas…
Optimis saja mas… bukankah semakin naik kelas, ujiannya juga semakin sulit?
Iya jelas maksud naik kelas itu yang menjadi manusia yang lebih baik.
Saya sih enggak optimis-optimis banget, kadang juga pesimis, intinya sih realistis. *mringis*
smoga hutan negeri ini lestari ya
Jadi inget lagu yang liriknya seperti ini,
“lestari alamku lestari desaku, dimana Tuhanku menitipkan aku..”
Lupa, lagu siapa ya?
go green,,,stop global warming,,,karena hutan dan kehijauan begitu indah segar dan sejukkkk…..
Tagline-nya 3G aja ya, Gie Go Green!
Mari kita jaga hutan dan alam kita …
Sudah lama tak melihat pohon yang rindang dan lebat.
Iya, sudah jarang lihat pohon besar, apalagi di Jakarta. Dulu di deket halte busway Harmoni ada pohon gede banget, akhirnya ditebang karena menghalangi jalur busway.
Ping-balik: Hantu, Hutan, dan Tuhan « giewahyudi