Setengah tahun ini, saya sering naik busway. Nama resminya bus Transjakarta, tapi anak gaul Jakarta menyebutnya “TiJe’. Dua jalur busway yang sering saya gunakan adalah Koridor I Blok M – Kota dan Koridor XIII Lebak Bulus – Harmoni. Sebagai pendatang baru di Jakarta, senjata rahasia saya adalah peta jalur busway. Lucu memang, tapi kalau teman-teman kantor saya bertanya tentang jalur-jalur busway saya sudah hafal. Peta kecil jalur busway itu selalu ada di dalam tas kerja saya. Saya pernah keliling Jakarta dengan busway berbekal peta busway itu.
Sebelum saya menetap di Jakarta, saya pernah beberapa minggu berkelana di Jakarta. Tapi ketika itu saya belum mencoba naik busway, karena halte busway di depan Slipi Jaya belum selesai. Ketika itu lebih efektif naik kopaja atau metromini. Salah satu pancingan ketika saya bercita-cita untuk ‘mengejar’ Jakarta adalah karena saya ingin naik busway. Di penghujung tahun 2010, BLU Transjakarta membuka dua jalur baru, yaitu Koridor IX Pluit – Pinang Ranti (yang melewati Slipi) dan Koridor X Cililitan – Tanjung Priok.
Selama naik busway, saya mendapatkan beberapa kenyamanan yang tidak didapatkan ketika naik kendaraan umum lainnya. Saya tidak kepanasan, kecuali kalau AC busway mati dan saya harus kipas-kipas. Saya tidak kehujanan, kecuali air AC bocor membasahi kepala saya. Saya tidak harus berdiri, kecuali ada ibu hamil atau orang tua berdiri di depan saya. Atau memang penumpang sedang busway banyak sekali dan saya harus berdesak-desakan. Saya tidak harus kena macet, kecuali semua pengguna jalan masuk ke jalur busway dan tidak ada petugas sterilisasi jalur busway. Saya tidak takut kelewatan halte, kecuali alat pengeras suara atau papan pengumuman elektroniknya tidak berfungsi dengan baik dan petugas di dalam busway hanya diam saja.
Kejadian kurang nyaman pun pernah saya alami di atas busway. Saya pernah mengantri busway di halte Grogol 2 selama dua jam, harus berdiri dengan aroma sungai yang tidak sedap di dekat halte tentu tidak nyaman untuk siapa pun. Saya juga pernah berada di dalam busway yang sudah keluar asapnya, tapi penumpang tak boleh turun dan terpaksa menahan nafas untuk sementara waktu. Di dalam busway yang saya pikir aman, saya pernah mendapati seorang penumpang yang kecopetan. Saya juga pernah mendapati seorang ibu hamil yang didorong-dorong di dalam antrian busway. Oh iya, saya juga pernah melihat ada seseorang berperilaku asusila dan dilaporkan ke petugas oleh korbannya.
Suatu kali saya merasa ngeri ketika membaca timeline Twitter, “ada korban meninggal karena ditabrak busway di Setia Budi.” Ternyata membahayakan juga. Saya kira busway itu aman untuk penumpangnya dan juga untuk pengguna jalan lainnya. Saya terhenyak ketika memperoleh data kecelakaan di jalur busway. Bahkan di Koridor X yang baru dibuka 6 hari lalu itu, busway bertabrakan dengan truk tronton. Sepanjang tahun 2010 setidaknya dilaporkan terjadi 430 kasus kecelakaan di jalur busway. Dari seluruh kecelakaan itu, sebanyak 14 korban meninggal dunia, 18 korban mengalami luka berat, dan 99 korban menderita luka ringan.
Kasus kecelakaan di jalur busway terjadi kemarin di depan Mapolsek Jatinegara, Jakarta Timur. Seorang pedagang gorengan yang menerobos jalur busway di Jalan Otista Raya terserempet busway sehingga kakinya terluka dan tangannya melepuh karena tersiram minyak. Setelah hampir 7 tahun beroperasi, busway masih menghadapi satu kendala yang sama, yaitu belum sterilnya jalur busway dari kendaraan umum, kendaraan pribadi, dan bahkan pejalan kaki.
Saya jadi ngeri kalau menyeberang di perempatan Harmoni. Di perempatan itu busway menikung dengan kencangnya. Meski saya menyeberang di zebra-cross, saya bisa tidak selamat kalau ternyata saya tidak memperhatikan lampu merah dengan benar. Meski maut telah diatur, saya masih sayang dengan nyawa saya. Saya tidak mau tertabrak busway karena keteledoran saya. Aturannya sebenarnya jelas, jalur busway diciptakan hanya untuk bus Transjakarta. Titik.
Setiap pengguna jalur busway, selain bus Transjakarta, adalah berbuat kesalahan. Dan setelah seorang saudara saya meninggal kemarin, saya memikirkan nasib yang menimpa ke-14 korban meninggal dari kecelakaan busway itu. Tanpa berniat menyalahkan mereka, saya percaya bahwa menyerobot jalur busway adalah sebuah kesalahan. Saya tak harus menyalahkan orangnya atau petugas yang bertanggung jawab membersihkan jalur busway. Saya sendiri tidak mau menjadi korban busway sebagai seorang yang melakukan kesalahan. Setidaknya saya ingin meninggal ketika tidak sedang membuat suatu kesalahan.


Ja, seharusnya ada petugas yang mengawasi, karena saya sendiri setiap berangkat sekolah banyak melihat motor yang banyak melintas di jalur busway, mobil lebih banyak. Entah apa yang terjadi pada masyarakat Jakarta, diberi hati minta jantung.
Iya Deny, di Jakarta Pusat hampir semua sudah dilakukan sterilisasi jalur busway, nah di jalur yang belum itu yang sering terjadi penyerobotan.
Masyarakat tertib hanya kalau ada petugas.
Saudaraku, sudah jadi saudaramu juga ya? #eh
*membaca satu per satu kalimat, kok nemu kalimat itu*
Eh iya, kata pak ustad kita semua bersaudara lho.. *ngeles*
Yah, setiap moda transportasi, secanggih apapun tetap mengandung resiko. Tapi masalah ketidaknyamanan, itu baru isu yg patut diperhatikan. Seharusnya ada keseriusan dari pihak pengelola adar si Tije ini lebih memanjakan warganya, jadi ga perlu bermobil pribadi lagi ke tempat2 tujuan.
Semoga Jakarta bebas macet! *kapan ya?*
Iya, sekarang saja masalah-masalah yang sepele pun masih ada.
Di umur yang sudah 7 tahun ini masa’ ban yang dipakai masih ada ban vulkanisir.
Selain nyaman, kita juga perlu nyaman.
Kalau Jakarta ga macet, itu hanya mimpi, Mas.
Saya berharap ada kerjasama yang baik antara busway dengan sarana transportasi lain (metromini, kopaja, mayasari bakti, mikrolet, dll). Mereka harusnya bersinergi
Pada kenyataannya, keberadaan busway telah mengurangi jumlah pendapatan dan juga jumlah armada transportasi yang lain itu juga.
Sinergi gimana ya? *ga mudeng-mudeng juga sampai komentar ini berakhir*
wah bnr tuh, kita sbg org yg sll di jejali dg info tentang larang utk menerobos jalur busway harusnya tau akan bahaya menerobos jalur busway, jika begini jadinya (kecelakaan.red) kadang pihak buswaysll yang di salahkan, padahal smuanya sudah tau bahwa menerobos jalur busway itu bahaya.
ok, sukses aja buat smuanya n mhn di perhatikan dg apapun yang ada…ok
Iya, semoga pemakai jalan tahu aturannya dan pihak berwajib pun tidk lalai dalam sterilisasi jalur busway..
Agar busway tidak menakutkan.
Ping-balik: Peta Jalur Busway Koridor 9 dan 10 « giewahyudi
kemena ja ,,,,
Ping-balik: Egois itu Enggak Ada Gunanya « giewahyudi
di karet, banyak banget joki-joki yg nyebrang tanpa lewat jembatan penyebrangan, gak heran deh kalo waktu itu ada kecelakaan di busway karet
Kasihan juga kalau lihat kecelakaan gitu, Du. Tapi gimana lagi lha wong mereka menyalahi aturan. Jangan ditiru ya, Du. :p
kalau bus trans jakartanya dibuat jalurnya di bawah tanah, mungkin kagak ada motor, mobil atau orang yang masuk ke jalurnya…he2…
Kesadaran berlalu lintas yang masih rendah untuk semua pemakai jalan, apalagi yang namanya pengendara motorrr….udah nggak mikirin diri sendiri, apalagi pengguna jalan lain..
pak bu tolong saya,,,,,berangkat ngantor jm 6 dpet bus’a jam 7 blum ngntri lagi di harmoni nyampe kaya kereta,,,,,,pasti telat lah,,,,?selain berngkat awal,,,,ada solusi lagi gaya,,,,,qu naek di pasr cempaka puttih,,,,ngntor di duku atas,,,,,piye iki
Cara bercerita yang menarik… .Ane hanya sekali dua menaiki Bus jenis ini… .Lama….. .By the way Ane minta izin untuk meminjam gambar Bus Transjakarta ya ?
makasih
tulisan yang menarik!
saya sendiri bukan pengguna busway, tapi KRL. dan itu memudahkan untuk bepergian dari tempat tinggal saya yang jauh di suburb.
semestinya memang transportasi di jakarta ditingkatkan bebarengan dengan pengurangan kuota mobil di jakarta. kalau sedikit-sedikit, mungkin kapan tahun jakarta bisa tidak macet. tapi kayaknya, Tuhan lebih mudah mengabulkan cita-cita saya daripada membuat Jakarta tidak macet..
Pengendara motor juga bayar pajak, pajaknya buat bikin jalan busway, enak ajah itu jalur cuman buat busway, bikers juga bayar pajak kendaraan, emang penumpang busway dah gak bayar pajak, bayar karcis cuman 3.500 perak pengen di istimewain ,enak ajah !